Langkah Ringan Seorang Loper

Dia melangkah santai tanpa beban, senyum ramah selalu menghiasi wajahnya. Berbagai suratkabar ia gendong dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengambil salah satu suratkabar tersebut lantas menawarkannya pada siapapun yang menurutnya terlihat intelek.

Di pinggiran tempat menunggu kereta api, biasanya ia menawarkan suratkabar yang ia gendong. Usianya mungkin 2 atau 3 tahun lebih muda dari saya. Terkadang ia tersenyum lalu menyapa seorang bapak, ibu, ataupun mahasiswa atau mahasiswi yang sepertinya telah menjadi pelanggan tetapnya tiap sore.

Sebelum kereta berangkat, ia akan memasuki gerbong kereta commuter line dengan langkah santai dan mencari sosok-sosok yang tiap harinya membeli suratkabar yang ia jual. Terkadang ia akan berhenti sejenak untuk memeriksa pesan masuk di ponsel yang tak seberapa gaya.

Kali lain ia akan menyusuri selasar dari ujung ke ujung untuk menawarkan suratkabar. Di hari berikutnya ia membawa setumpuk novel-novel fiktif yang sedang populer diperbincangkan orang lalu menawarkan pada penumpang kereta api.

Tiap harinya saya melihat dia melangkah santai dengan senyum tulus. Ia menerima hidupnya dengan ringan, pekerjaannya hanyalah menjual suratkabar dan novel di stasiun kereta api. Baju pun sepertinya tak banyak, namun rapi dan bersih. Celana pun sepertinya hanya itu-itu saja. Sendal yang sudah lusuh membalut kedua kakinya.

Tapi ia senang. Senyum itu tulus. Langkah itu ringan adanya. Sapaan pun ramah tak dibuat. Itu hidupnya.

Seperti sentilan halus. Kalau dia saja bisa menerima lapang dada dan malah semangat menjalani kesehariannya yang terlampau sederhana, lantas mengapa saya, kamu, dan kalian semua tidak bisa?

#life   #Thoughts  
 
  1. forgottensupernova posted this
 
blog comments powered by Disqus